Memiih Bekerja Sosial

Lengkapnya bernama Yulia A. Baso (37), Ijul memang sangat menyukai kegiatan sosial. Sejak Februari 2010, Ijul bergabung dengan komunitas Lebah. Tak sampai di situ, karena ingin lebih fokus menjalankan program Cerdas Tanpa Batas (CTB) yang dimotorinya di komunitas Lebah, Ijul memilih mengundurkan diri dari pekerjaan kantoran pada September 2011, supaya bisa lebih fokus di kegiatan sosial. Setelah itu, dirinya langsung bisa mempersiapkan CTB di November 2012.

Lulusan STP Bandung ini merasa bersyukur telah meninggalkan dunia kantoran, karena ia jadi bisa bebas bergerak untuk survei, turun langsung jika ada bencana, persiapan kegiatan sosial, dan sebagainya. Kendati demikian, Ijul tetap berkerja sebagai tenaga lepas, sehingga jam kerjanya bisa ia atur sendiri, bahkan dikerjakan saat melakukan kegiatan sosial.

Pasalnya, sebagai ketua pelaksana CTB, dirinya tak boleh absen dan harus mengurus segala hal, mulai survei, persiapan, hingga pelaksanaan kegiatan. Mengenai awal ketertarikannya dengan komunitas Lebah, peraih penghargaan “She CAN! Live Confdent!” dari Tupperware ini berkisah, “Waktu itu pertama ikut saat komunitas ini mengadakan bazar pakaian untuk menggalang dana operasional.

Setelah itu, salah satu pendirinya mengajak saya untuk membicarakan program pendidikan berupa pesantren kilat kreatif Ramadan. Saat itu saya melihat komunitas ini serius untuk melakukan kegiatan pada pendidikan dan kesehatan. Nah, inilah yang membuat saya tertarik dan akhirnya terlibat dengan komunitas Lebah hingga saat ini.”

Pendidikan bahasa tentunya juga penting untuk anak. Lembaga les bahasa asing online terbaik merupakan pilihan yang tepat bagi orangtua untuk memberikan anak bekal bahasa asing.

Sejarah CTB

Dalam perjalanannya menjadi anggota komunitas Lebah, Ijul berkeinginan anak-anak Indonesia bisa memiliki akses pendidikan. Namun, pendidikan itu tidak melulu didapatkan dari sekolah, melainkan juga bisa didapatkan dari buku-buku bacaan. Oktober 2011, Ijul mendapat e-mail dari satu rumah baca di Bojonegoro, Jawa Timur. Isinya, mereka ingin bisa mendapatkan bantuan buku dari komunitas Lebah.

Sebelum menanggapi, “Saya bertukar pendapat dengan salah satu pendiri yang juga Ketua Umum Lebah, Fif Moestarika. Saat itu saya utarakan juga ide saya untuk langsung ke sana dan berkegiatan bersama anak-anak di Bojonegoro.” Gayung bersambut, jelas Ijul, ternyata Fif juga ingin sekali memperluas kegiatan komunitas Lebah hingga di luar Jabodetabek. Nah, sejak itu lahirlah program CTB, yang ide namanya berasal dari salah satu anggota (beezers), Rossy Wiryanti.

Setelah di Bojonegoro, tepatnya sejak Januari 2012, program CTB rutin diadakan setiap minggu pertama. Hingga saat ini sudah ada 3 Rumah Ilmu Lebah (RIL) yang berdiri. “Alasan kami menamai RIL dan bukan taman baca, karena buku adalah gudang ilmu. Dari buku itulah anak-anak akan mendapat beragam ilmu,” papar Ijul.

RIL sendiri tidak khusus untuk anak-anak, melainkan juga warga sekitar, sehingga buku yang diberikan pun sangat beragam, mulai buku-buku prasekolah hingga buku referensi. Ragam buku ini bisa dilihat di website www.komunitaslebah.org. Menurut Ijul, kegiatan CTB tidak hanya memberikan donasi buku yang memang menjadi kegiatan utama komunitas Lebah, tapi juga melakukan aktivitas bersama anakanak di sana.

“Sewaktu CTB pertama, kami mengadakan acara kegiatan bermain bersama, mendongeng dan origami. Kami juga mengadakan acara tanam bibit pohon gayam, mengingat anakanak yang ada di desa Gayam, Bojonegoro, tidak tahu bahwa gayam adalah nama pohon dan tidak ada satu pohon gayam pun di desa tersebut,” papar Ijul.